Andy Evan

  • Teras
  • Ruang
  • _Tulisan
  • _Foto
  • Kontak
Setelah hampir 4 tahun lebih saya tidak menulis di blog ini. Pasca pandemi covid-19, banyak hal yang terjadi dan penyesuaian saya dengan kegiatan sehari-hari yang silih berganti. Saya mulai membaca ulang tulisan-tulisan yang dulu saya hasilkan dan publikasi di blog ini. Cukup  melankolis dan penuh kenangan. Hari ini saya putuskan kembali menulis dan bekesah di blog ini lagi. Selain sebagai catatan yang tidak ingin saya lupakan, hal ini juga sebagai upaya tetap menjaga kebiasaan menulis yang sudah lama hilang dalam keseharian saya setelah lulus sarjana.

Setelah membaca beberapa tulisan, saya teringat bahwa saya pernah menuliskan pengalaman nenek sebagai seseorang yang hidup dan tumbuh di desa pinggir sungai Mahakam di Kalimantan Timur. Tulisan saya tentang Gubeng Belentung dan astronomi Kutai. Dua tulisan tersebut adalah pengalaman saya berbincang dan bernostalgia dengan nenek saya. Dalam dua cerita sederhana tersebut saya ingin mengabadikan pengalaman nenek dan menceritakan ulang di blog saya pribadi (berharap mungkin ada yang membaca atau tidak). Sebagai upaya saya menjaga ingatan dan cerita orang-orang sepuh dahulu ketika tinggal di pinggir sungai Mahakam. Kedua cerita tersebut sangat berarti bagi saya yang lahir di Desa Sanggulan, desa yang terletak persis di bagian hulu sungai Mahakam. Sungai dan langit adalah bagian dari alam yang erat dengan kehidupan orang-orang Kutai sejak dahulu hingga sekarang. Pengalaman masyarakat dan kedekatan mereka dengan alam sebagai bagian dari sumber kehidupan. 

Hari ini saya mendapatkan berita duka bahwa nenek yang saya sayangi itu meninggal dunia. Pada hari ahad 29 Maret 2026 M, 9 Syawal 1447 H pukul 2 dini hari. Dunia saya runtuh. Semua kenangan saya sejak kecil dan cerita-cerita nenek datang kembali mengunjungi ingatan saya. Setelah seharian menanggung tangis dan sedih, saya teringat semua cerita nenek pada dua tulisan yang saya sebutkan sebelumnya. Nenek adalah seorang Kutai sejati, kedekatannya dengan sungai dan langit sepanjang hidupnya, bagaimana dia menjalani hidup dengan kesederhanaan bahkan dalam pikirannya. Saya selalu mengingatnya sebagai orang yang sangat berjasa dan berharga dalam hidup. Terlintas di pikiran bahwa saya ingin bercerita tentang sosok tersebut dan mengabadikannya dalam tulisan di blog saya. Saya tidak banyak berharap dan hanya ingin menumpahkan kesedihan dan ingatan ini pada suatu tulisan. Suatu hari nanti ketika saya merindukan nenek saya akan membaca ini ulang dan mengirimkan doa-doa.

Sebagai seorang cucu, saya selalu mengenal dan melihat nenek sebagai seorang yang baik. Sebagian orang pasti punya pengalaman yang membahagiakan dengan nenek. Nenek lebih jarang bercerita banyak tentang pengalaman kehidupannya dahulu ketika di masa muda dibandingkan dengan Kakek. Kakek adalah seorang pencerita yang lebih aktif daripada nenek. Di masa muda nenek, dia tidak terlepas dari sungai Mahakam tempat dia tumbuh. Sejak muda dia menuju berbagai daerah melalui Sungai Mahakam dengan perahu. Nenek berasal dari suatu desa yang lebih hulu dibanding Desa Sanggulan tempat tinggal dia sekarang. Dia berasal dari Desa Kotabangun, ada banyak keluarganya yang masih ada di sana. Walaupun nama desa tersebut Kotabangun, itu terlihat sangat jauh dari apa yang disebut Kota.

Nenek pergi dari desanya dan merantau ke hilir sungai Mahakam, menuju Desa Sanggulan, tempat dia bertemu dengan Kakek. Nenek dan Kakek sering sekali bercerita bahwa mereka datang ke desa ini jauh sebelum desa ini ada. Desa Sanggulan, kata nenek, dulu masih dipenuhi pohon bambu dan pepohonan bagai hutan. Hanya ada beberapa warga Dayak yang tinggal di sekitar. Tidak ada jalan aspal atau bahkan jalan setapak. Akses ke desa ini hanyalah melalui sungai Mahakam menggunakan ces atau gubeng (perahu) sebagai transportasi utama. Nenek terlahir pada tahun 1950-an, saya tidak ingat detailnya. Nenek dianugerahi umur panjang hingga 70 tahun lebih, menemani desa ini tumbuh hingga sekarang.

Suatu waktu saya pernah bertanya kepada nenek, kenapa desa ini dinamai Desa Sanggulan. Nenek menjawab bahwa dulu desa ini pernah dinamai Tanjung Harapan dan silih berganti sampai akhirnya dinamakan Sanggulan. Kata "sanggulan" itu, kata nenek, berasal dari Kata "Sanggul". Kata ini berarti kurang lebih begal. Saya bingung memilih kata yang tepat. Nenek mengatakan bahwa banyak orang yang menyanggul di daerah ini.  Sungai Mahakam adalah poros jalur utama di Kalimantan Timur. Lalu di bagian hilir desa ini ada banyak anak-anak sungai kecil yang menjadi tempat para penyanggul bersembunyi. Ketika ada Gubeng-gubeng (Perahu) yang membawa hasil bumi lewat, para penyanggul akan mencegat perahu-perahu tersebut untuk kemudian dirampas hasil buminya. Ketika mendengar itu saya kaget dan agak takut. Menyadari bahwa desa kelahiran saya cukup menyeramkan namanya.

Nenek pernah bercerita pengalaman nenek masih kanak-kanak menaiki perahu dari hulu sungai Mahakam menuju kota di bagian hilir. Kerajaan Kutai Kartanegara dan kota-kota besar terletak jauh di bagian hilir sungai. Karena keterbatasan fasilitas, ketika ada yang sakit, orang-orang yang tinggal di hulu sungai sudah pasti harus menaiki perahu belentung (mengikuti arus tanpa menggunakan mesin) menuju hilir untuk mendapatkan pertolongan dokter atau akses fasilitas kesehatan. Perjalanan ini bisa memakan waktu yang tidak sedikit, bahkan hingga berminggu-minggu. Ibu nenek (buyut saya) pernah terkena sakit parah dan membutuhkan pertolongan dokter. Nenek dan ibunya harus menaiki perahu dalam waktu yang lama untuk pergi ke kota, sayangnya ibu nenek tidak sempat tertolong, sebelum mencapai rumah sakit, ibu nenek meninggal dunia. Saat itu ibu nenek akhirnya dimakamkan di kota Tenggarong di hilir sungai, jauh dari desa tempat tinggalnya.

Nenek merupakan orang yang kuat dan sehat sebenarnya untuk ukuran seusianya. Pada masa 2022 selepas saya kuliah, nenek masih kuat berjalan dan menaiki bukit menuju ke pasar. Pasar di desa kami memang terletak di atas bukit/gunung yang lumayan tinggi. Warga harus menanjak untuk membeli kebutuhan sehari-hari dan nenek masih sanggup melakukan itu di usianya saat itu. Sewaktu kecil, saya selalu ingin ikut nenek ke pasar dan minta dibelikan makanan atau mainan yang ada di pasar. Sejak dahulu pasar berada di depan rumah kami di dekat pinggir sungai Mahakam hingga sekarang ketika pasar sudah dipindahkan ke atas bukit (mungkin demi menghindari banjir tahunan yang sering terjadi di desa ini). Nenek sejak saya berusia kecil selalu membawa tas anyaman rotan yang bisa memuat banyak barang. Jauh sebelum campaign ramah lingkungan, nenek sudah punya dan menggunakan itu sejak lama. Sewaktu kecil saya bantu nenek membawakan tas anyaman rotan tersebut selama perjalanan pulang dari pasar ke rumah.

Selain tas anyaman rotan tersebut, nenek juga memiliki sahung (semacam caping khas Kaltim). Nenek selalu menggunakan itu ketika berjalan ke luar rumah di siang hari. Saya bisa tahu itu nenek hanya dengan melihatnya dari belakang bahkan dari jauh. Saya hafal sekali siluet nenek tersebut. Di lain waktu, saya pernah main ke luar rumah dan tak kunjung pulang sejak pagi hingga sore hari, sepertinya keluarga di rumah khawatir, karena kebetulan saat itu juga bulan Ramadan. Sekitar jam 2 siang menjelang sore, saya berada di darat (bagian desa yang jauh dari sungai). Ternyata nenek dengan sahung khasnya tersebut berkeliling mencari saya dan menanyakan ke teman-teman saya di situ. Nenek sepertinya marah. Saya tidak melihat kemarahan itu tapi saya merasakannya. Nenek mengajak saya pulang sesegera mungkin sambil mengikuti saya dari belakang. Saya masih ingat peristiwa itu walaupun sudah 20 tahun berlalu. Saya kembali merindukan nenek.

Terkait dengan kekuatan nenek berjalan jauh ini tidak terlepas dari kebiasaannya ketika masih muda. Nenek bisa berjalan 3-6 kilometer sehari untuk perjalanan pulang-pergi dari rumah ke kebunnya. Nenek dan kakek pernah bercerita bahwa sebelum kelahiran saya, nenek masih aktif berkebun dan memanen banyak hasil kebun. Saat ini kebun tersebut masih ada dan sudah tidak cukup terurus. Selain karena memang sekarang anak-anak nenek tidak banyak yang berkebun. Masih sering ada buah kelapa atau pisang yang bisa dipetik, ini merupakan amal jariyah nenek selepas wafatnya. Jujur saja sampai saat ini masih ada buah kelapa dan pisang dari kebun nenek yang dikonsumsi dan dimanfaatkan untuk dijual kembali.

Nenek juga adalah seorang pembelajar seperti kakek. Saat saya masih bersekolah dasar, dan nenek di usianya yang tidak lagi muda saat itu dia masih aktif belajar mengaji melalui buku Iqro yang terkenal itu. Terakhir kali saya dengar kabar bahwa nenek sudah bisa membaca Al-Qur'an. Saya senang nenek bisa membaca dan berhasil menguasai bacaan tersebut. Di masa kecil, selepas shalat jum'at, nenek akan pergi ke masjid ikut kegiatan shalawatan  yang ada di sana. Membawa pulang jajan atau air kembang yang harum semerbak. Sewaktu kecil saya senang sekali meminta air ini untuk dipakai bersih-bersih, airnya harum. Kebahagiaan anak kecil bisa sesederhana itu.

Yang paling saya iri dari Kakek dan Nenek bahwa mereka bisa hidup sampai lanjut usia dan tetap harmonis, sesekali memang ada selisih paham dan marah marah kecil tapi nenek sangat peduli sama kakek. Semua detail masakan kesukaan dan minuman kakek, Nenek pasti tahu. Nenek benar-benar hafal semuanya dan apa yang harus dilakukan untuk mengurus kakek yang juga sepuh. Kakek bertanggungjawab dan memberikan nafkah yang cukup bagi nenek, semua kebutuhan nenek bahkan masih disediakan oleh Kakek melalui bisnis kos kakek di desa Sanggulan. Sampai saat terakhirnya nenek tidur bersama kakek dan saling menguatkan satu sama lain. Semua cucu dan anak-anaknya pasti merasakan kehilangan sosok nenek dan ibu. Dari semua itu saya masih tidak bisa membayangkan perasaan kakek karena kehilangan pasangan hidupnya. Saya merindukan nenek.

Setiap ke rumah nenek, saya akan ke dapur dan bertanya, "Nenek masak apa hari ini?". Pertanyaan ini tidak pernah luput sekalipun saya tanyakan. Nenek akan bercerita tentang apa yang dia masak dan dari sini kami akan mulai saling bercerita. Sekarang saya hanya bisa ke kubur nenek dan bertanya, "Nenek bagaimana di sana?". Saya berharap bisa bertemu dan bercerita lagi tentang apapun ke nenek. Jika tidak sekarang, mungkin di kehidupan yang lain. 






  • 0 Comments

 


Pada cerita sebelumnya (baca : Ragam Rupa Desa), saya sedikit bercerita tentang beberapa desa yang saya kunjugi di hulu sungai Mahakam. Keesokan harinya, kami tak meneruskan ke bagian hulu. Kami berbalik arah. Kembali ke hilir sungai. Ada desa yang menyimpan peninggalan awal masa sejarah di Nusantara. Desa Muara Kaman.

Satu jam perjalanan. Kami sampai. Dan harus melewati Kebun Sawit dan menyeberang sungai lagi. Dengan naik kapal lagi tentu saja. Pemukiman di atas sungai sudah jarang ditemui. Ada hanya beberapa. Muara Kaman merupakan kecamatan yang berbeda dengan Desa yang sebelumnya kami datangi. Kecamatan Muara Kaman. Penduduknya juga bertempat tinggal di pinggiran sungai sampai ke daerah perbukitan yang lumayan tinggi.

Ada salah satu monumen nasional yang baru pertama kali saya datangi. Padahal tempatnya tak jauh dari desa saya. Monumen Nasional Tugu Pahlawan Muso Bin Salim. Lebih dikenal dengan Muso Salim. Beliau adalah salah satu tokoh pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang berasal dari Muara Kaman. Pahlawan Gerilya Kalimantan Timur ini juga pernah menerima penghargaan dan kehormatan dari Menteri Pertahanan RI Sultan Hamengkubuono XI pada 1947, dan lain sebagainya. Perjuangan beliau yang berani mengangkat senjata mengusir penjajah adalah semangat yang mesti generasi sekarang warisi. Banyak pihak juga yang mengusahakan agar beliau diangkat menjadi pahlawan nasional. Tapi itu juga merupakan sebuah proses yang membutuhkan waktu yang panjang. Saya mengalami kesulitan mencari informasi tentang beliau. Jadi, jika ada yang lebih tahu, bisa berbagi di komentar.

Monumen Nasional Tugu Pahlawan Muso Bin Salim


Setelah dari situ kami beranjak. Ke situs kutai Ing Martadipura. Tempat ditemukannya tujuh Prasasti Yupa tertua di Nusantara. Inilah yang menjadikan Kerajaan Kutai menjadi kerajaan tertua di Indonesia. Prasasti tersebut menggunakan bahasa sansekerta yang menceritakan kemakmuran kerajaan di bawah pemerintahan Raja Mulawarman. Prasasti yang menggunakan huruf pallawa tersebut secara paleografis diperkirakan berasal pada abad ke empat Masehi. Huruf Pallawa digunakan di Hindu Selatan sekitar tahun 400 Masehi. Corak dan gaya huruf yang digunakan juga sama dengan gaya huruf Pallawa di India. Para ahli menyatakan bahwa prasasti itu dibuat pada masa abad kelima Masehi. Sayangnya bukti arkeologis dari sumber sejarah yang lain belum ditemukan. Berita Cina tentang Kalimantan baru muncul pada masa Dinasti Tang (618-906 Masehi).

Situs Kerajaan Kutai Ing Martadipura


Raja Mulawarman dapat dipastikan sebagai orang Nusantara asli, karena kakeknya masih menggunakan nama lokal, Kudungga. Ahli sejarah menafsirkan nama ini adalah nama asli Indonesia yang belum terpengaruh budaya India. Pada masa abad keempat Masehi, Kerajaan Kutai telah memiliki golongan masyarakat yang cakap baca tulis menggunakan bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Mereka adalah golongan Brahmana yang telah mempelajari agama Hindu hingga ke pusat penyebarannya di India.

Situs Kerajaan Kutai Ing Martadipura


Kehidupan politik dan ekonominya juga stabil dan makmur berdasarkan apa yang tertulis pada bagian dari salah satu prasasti Yupa tersebut. Raja Mulawarman berkurban dan bersedekah banyak sekali kepada para Brahamana. Sebagai tanda terima kasih, Para Brahmana mengabadikan kisahnya dalam Yupa.

Saya banyak bercerita sejarah di sini. Tapi itulah yang menarik saya dan teman-teman datang ke Muara Kaman. Awal mula tonggak sejarah di bumi Nusantara. Peralihan dari zaman prasejarah, memasuki masa sejarah Nusantara. Sayangnya karena pandemic covid-19. Pelayanan juga dibatasi. Kami tak bisa serta merta masuk ke dalam situs untuk melihat Yupa atau peninggalan sejarah lainnya. Salah satu Yupa yang asli disimpan di Museum Nasional di Jakarta. Sisanya saya juga kurang tahu dimana.

Lesung Batu


Selain Yupa juga banyak ditemukan Artefak Tembikar, Artefak Batu dan Artefak logam. Di situs ini juga ada Lesung Batu yang merupakan batu dalam kondisi tergeletak di atas permukaan tanah. Batu ini berbentuk persegi panjang dan menyerupai  menhir atau Yupa. Di hari-hari budaya tahunan Erau, biasanya banyak wisatawan yang datang berkunjung kemari. Mengenal peradaban tertua yang pernah ada di Indonesia. Tabik.

  • 0 Comments



Sebulan yang lalu saya dan teman-teman jalan-jalan ke Kecamatan Kota Bangun di Kabupaten Kutai Kartanegara. Perjalanan ini sebenarnya sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari sebelumnya. Setelah dua sampai tiga minggu wacana. Akhirnya kami bisa merealisasikannya. Karena saya tidak pernah lagi ke daerah hulu sungai Mahakam sudah sangat lama. Lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Saya kira. Karena jauhnya waktu yang tak kunjung temu itu, saya tertarik untuk kembali menunaikan rindu. Sambil menarik kembali ingatan dan merangkai pengalaman baru.

Jarak dari desa kami berangkat (Desa Sanggulan) ke Kecamatan Kota Bangun kurang lebih tiga puluh kilometer. Ya, kurang lebih jarak dari daerah Ngaliyan di Semarang ke Demak. Tapi waktu yang kami tempuh tentu saja tidak sama. Medan yang sangat menantang. Setengah jarak perjalanan kami lalui dengan krikil dan debu, juga lubang sana-sini. Jalannya masih berupa tanah dengan batu-batu kecil. Untung saja tidak hujan. Jadi perjalanan masih tergolong mudah bagi kami yang sudah terbiasa. Memang melalui jalur ini lebih dekat walaupun sebenarnya bukan jalan resmi. Kami harus melalui sebuah perkebunan kelapa sawit yang SANGAT LUAS. Saking luasnya, ketika sedang berada di daerah tersebut sepanjang mata memandang yang bisa kita lihat hanyalah pohon-pohon sawit.

Setengah perjalanan yang akhir kami sudah keluar dari perkebunan dan melalui jalan resmi yang sudah beraspal. Jalan ini sudah mulai ramah debu dan krikil ketimbang separuh jalan sebelumnya. Karena medan yang seperti itu kami bisa menjalaninya selama kurang lebih tiga jam. Normalnya dua jam. Hal tersebut wajar saja. Karena kecepatan kami yang santai dan di bawah rata-rata. Kami berangkat jam 8 pagi dan tiba di tujuan jam 11 siang. Separuh perjalanan sampai ke tujuan sudah terbilang nyaman.

Sampai di Kota Bangun, kami harus menyebrang sungai Mahakam dengan menggunakan kapal Feri. Kapal ini sudah merupakan kendaraan umum di Kecamatan ini. Karena pemukiman penduduk biasanya ada di dua sisi Sungai Mahakam. Jadi, penyeberangan antara dua sisi sungai akan selalu ada, Bahkan bisa sangat padat. Kapalnya tidak terlalu besar, cukup untuk satu kendaraan roda empat atau lima sampai enam kendaraan roda dua. Biasanya akan langsung menyebrang (tanpa menunggu) walaupun hanya mengangkut dua atau tiga motor. Sewaktu menyebrang kita akan benar-benar dekat dengan sungai Mahakam. Ini menarik dan seru bagi saya yang sudah mulai jarang bermain di sungai Mahakam.

Sesampai di sisi seberang, kami bersegera menuju rumah keluarga. Tempat kami menginap. Di Kota Bangun Seberang ini menariknya, desanya  berada di atas jembatan. Jadi semua rumah penduduk, warung, masjid berada di atas jembatan. Dan jembatannya berbahan kayu. Setiap kali ada kendaraan yang lewat di depan rumah, maka suara jembatan kayu yang berbunyi itu terdengar nyaring. Bahkan ketika saya berada di atas motor bersama teman saya, suara pembicaraan kita bukan saja terhalang angin, tapi juga terhalang suara jembatan kayu yang berbunyi. Duk, duk, duk, duk.

Lalu, apakah jika tengah malam ada yang lewat di jembatan maka setiap rumah yang dilewati di desa itu akan terbangun ? Tentu saja tidak. Karena, masyarakat yang tinggal di situ juga sudah terbiasa dengan suara jembatan yang ribut.

Oiya, ciri khas sungai Mahakam adalah kapal ponton yang mengangkut Batu Bara (Emas Hitam Kalimantan) dan kayu-kayu pohon Kalimantan sering lalu lalang di Sungai Mahakam. Di Desa saya saja, setiap sepuluh menit sekali dapat dipastikan ada kapal yang lewat di belakang rumah dengan membawa hasil alam. Karena banyak tambang yang memang berada di hulu sungai Mahakam.

Setelah istirahat sebentar, kami pergi ke salah satu desa terdekat yang terkenal dengan wisatanya. Desa Pela Namanya. Dekat dengan danau Semayang. Setiap ada kegiatan budaya tahunan Erau, maka biasanya desa tersebut akan ramai dengan pengunjung dari berbagai daerah dan berbagai Negara. Karena selain tempatnya yang menarik, kekayaan alamnya juga merupakan daya tariknya. Ikan sungai Mahakam yang berukuran besar sangat sering ditemui di sini. Satu ikan bisa sampai berpuluh-puluh kilo beratnya.

Perjalanan kami ke Desa Pela menunjukkan bahwa kami harus terus berjalan ke bagian hulu sungai Mahakam. Dan kami harus tiga kali naik kapal feri. Menyebrang dari sisi sungai yang satu ke sisi sungai yang lain. Semakin ke hulu maka semakin sering saya menemui desa yang berada di atas jembatan kayu. Juga kegiatan di sungai akan semakin ramai. Karena selain sumber pertanian, masyarakat juga bermata pencaharian dengan menjadi nelayan.

Kami berkeliling hingga sore dan pulang kala malam. Tabik.


Beberapa foto yang sempat saya ambil :


Desa Pela







Kota Bangun Seberang



  • 0 Comments
Older Posts Home

Saya


Andy Evan

“Salah satu jalan menjadi Bahagia dalam hidup adalah dengan berusaha menjadi Baik, Benar dan Indah.”

Ikuti Saya

  • twitter
  • instagram
  • facebook

Yang banyak dibaca

  • Nyantri sambil berpuisi
    Waktu masih di Menengah Atas dulu, saya masih gila-gilaan menulis puisi. Memang karena tidak banyak kesibukan di Pondok Pesantren selai...
  • Gubeng Belentung Penyusur Mahakam
    Sungai Mahakam yang membentang sepanjang sekitar 920 km melintasi banyak kota dan desa di daerah Kalimantan Timur sejak dahulu memiliki per...
  • New Normal, Juni dan Puisi
    Udah juni aja. Di tengah pandemi, Tugas Kuliah dan Tugas pemberantasan Covid-19 nambah teruuus. Kehidupan di dunia maya masih ter...
  • Astronomi Kutai ?
    Beberapa hal cukup unik dan menarik menurut pandangan saya pribadi. Saat malam lepas saya mencari kesempatan untuk berbincang se...
  • I La Galigo: Sebuah Kosmologi Bugis
    Pengamatan manusia terhadap alam dan berbagai pertanyaan yang lahir membentuk bagaimana manusia membangun peradaban. Sains yan...

Baru aja

Nenek dan Cerita-cerita Lama

Jendela

Alam (5) Astronomi (3) Budaya (7) Buku (1) Cerpen (2) Desa (3) English (1) Falak (3) Filsafat (4) Foto (4) Generation-Z (1) Islam (9) Kitab Suci (2) Kosmologi (1) Liburan (2) Media Sosial (1) Pesantren (5) Puisi (14) Santai (7) Sehimpun Puisi (1) Tokoh (4) Tulisan (36)

Denah

  • ►  2018 (6)
    • ►  October (1)
    • ►  November (1)
    • ►  December (4)
  • ►  2019 (2)
    • ►  January (1)
    • ►  February (1)
  • ►  2020 (28)
    • ►  May (2)
    • ►  June (19)
    • ►  July (4)
    • ►  August (1)
    • ►  September (2)
  • ►  2021 (2)
    • ►  April (1)
    • ►  September (1)
  • ►  2022 (1)
    • ►  June (1)
  • ▼  2026 (1)
    • ▼  March (1)
      • Nenek dan Cerita-cerita Lama

instagram

Created By Andy Evan | Distributed By Blogger

Back to top